09 Mei 2009

Rebutan Kue

“ADEK ini apaan sih…? Ini kan punya Mbak! Jangan rebutan sampai main serobot begitu dong!” tegur Dinda pada Gilang.
“Ya kita berbagi dong, Mbak? Jangan serakah kayak begitu!” sela Gilang.
“Siapa yang serakah! Ini kan memang hak Mbak! Adek itu yang nggak bisa menahan diri, maunya lebih terus dari yang sebenarnya!”
“Namanya juga kehidupan, Mbak!”
“Maksudnya apa…?”
“Hidup adalah perbuatan, kan begitu!”
“Ya, tapi perbuatan yang kayak mana dulu?!”
“Hidup itu adalah perjuangan!”
“Hidup yang kayak mana dulu, Dek?”
“Ya hidup inilah! Nggak bisa kita hanya mengandalkan apa yang menjadi hak kita saja, Mbak! Nggak ada salahnya kalau kita berjuang untuk mendapat lebih dari apa yang menjadi hak kita! Kan hidup adalah perbuatan dan perjuangan,” urai Gilang.
“Adek perlu tahu ya, setiap orang di dunia ini adalah tamu dan uangnya adalah pinjaman. Setiap tamu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan setiap pinjaman haruslah dikembalikan!”
“Itu makna hidup dari sisi filosofis ke-Ilahian, Mbak! Kita ini hanya memperebutkan sepotong kue! Jangan jauh-jauh amatlah mencari parameter!” sela Gilang.
“Justru dari sekadar sepotong kue ini kita mesti belajar memaknai kehidupan, Dek! Sehingga kalaupun pada waktunya bertemu dengan persoalan lebih besar, nggak bakal sampai terjadi aksi main serobot kayak begini!” ucap Dinda.
“Lho, bukannya sekarang memang era rebutan kue, Mbak?”
“Maksudnya apa…?”
“Kue kekuasaan – posisi presiden dan wapres – kan lagi seru-serunya diperebutkan, Mbak! Lihat saja Pak Wiranto, dengan sukacita dan wajah sumringah, beliau tampak begitu enjoy ketika menandatangani ijab Kabul sebagai cawapres bergandengan dengan JK! Padahal, tahun 2004 lalu Pak Wiranto itu mencalonkan dirinya sebagai capres!”
“O, kalau itu beda, Dek!”
“Sama saja dong, Mbak! Sama-sama memperebutkan kue kayak kita ini! Adek kan ingin mendapatkan yang tengah, karena ada mesisnya, tapi karena nggak berhasil direbut, ya pinggir-pinggirannya juga oke saja, yang penting masih ada manisnya,” sela Gilang.
“Nah, gaya atau pola pikir semacam itu jangan terus dikembangkan, Dek! Dalam kehidupan ini ada prestise yang harus kita jaga! Alangkah naifnya mantan calon lurah belakangan sibuk mencalonkan diri sebagai ketua RT!”
“Tapi kan nggak salah, Mbak?”
“Bukan soal salah atau benar, Dek! Tapi etika! Etika politik itu mesti dikedepankan, karena rakyat akan menilai secara jernih! Kalau dulu sebagai calon presiden terus sekarang nrimo saja sebagai calon wapres, pandangan rakyat bukan lagi pada soal kemampuan dan kualitas atau niat baik Pak Wiranto untuk bangsa ini. Tetapi sudah kepada begitu menggeliatnya syahwat beliau untuk menduduki jabatan empuk! Ini menjadikan segala kelebihan beliau terkikis! Apalagi belum tentu pada 8 Juli nanti bisa menjadi pemenang pilpres,” urai Dinda panjang lebar.
“Jadi maksudnya, ya nggak perlu-lah rebutan kayak kita ini, begitu ya Mbak?”
“Kalau kita, memang nggak perlu rebutan, Dek! Tinggal saling meminta saja! Masalahnya, kalau kue kekuasaan, ya harus direbut! Yang disayangkan, sering melupakan prestise yang dengan susah payah dibangun!” ***

17 Maret 2009

Sentuhan Kerakyatan




SEPULANG dari refreshing akhir pekan kemarin, Gilang flu berat.
“Itulah kalau kerjaannya ngelayap!” ucap Dinda mengomentari kondisi adiknya.
“Siapa yang ngelayap, Mbak?” sanggah Gilang.
“Ya Adek itu! Sudah tahu kita lagi liburan di pantai, malahan main ke perkampungan nelayan, ujung-ujungnya kan malah kena penyakit kayak begini!”
“Kalau itu bukan ngelayap namanya, Mbak! Itu proses dari common touch!”
“Apa maksudnya?” tanya Dinda.
“Sentuhan kerakyatan, hehehe…!” jelas Gilang sambil nyengir.
“Adek ini memang sok-sok-an! Ngapain pula pakai aksi sentuhan kerakyatan segala, jadi caleg juga nggak! Di zaman sekarang ini, yang selayaknya memainkan pola common touch itu para politisi, Dek! Bukan kita-kita yang rakyat biasa dan tanpa ambisi politik!” ujar Dinda.
“Justru kita bukan siapa-siapa itu Mbak jadinya lebih enjoy melakukan sentuhan kerakyatan! Kalau kita caleg, belum apa-apa sudah berpikir seratus kali untuk melakukan sentuhan dengan rakyat! Kita sudah berhitung benar apa saja buah tangan yang harus dipersiapkan, dan sebagainya, dan sebagainya!”
“Itu sebabnya mayoritas caleg menjadi enggan bersentuhan dengan rakyat ya, Dek?”
“Betul, Mbak! Karena mayoritas mereka yang menobatkan dirinya sebagai caleg, memiliki modal pas-pasan! Semangat pas-pasan, dukungan material pas-pasan, dukungan moral pas-pasan, dukungan jaringan pas-pasan, memahami persoalan rakyat pas-pasan, dan sebagainya! Ya, serba pas-pasan itulah karakteristik mayoritas caleg kita sekarang ini! Karena itu jangan diharap mereka akan konsisten dalam mengakselerasi fatsun common touch! Itu mah jauh panggang dari api!”
“Jadi kalau begitu, untuk melakukan sentuhan kerakyatan mesti bermodal dong?!”
“Sebenarnya tidak juga, semua tergantung diri kita saja, Mbak! Yang penting kita mengusung keramahtamahan!” ucap Gilang.
“Mosok cuma modal keramahtamahan doang, Dek?!”
“Lho, Adek kan sudah mempraktikkannya, Mbak! Bukan cuma teori!”
“Maksudnya keramahtamahan yang bagaimana?”
“Ya keramahtamahan yang dilakukan dengan sepenuh hati, dengan niat yang baik, dan tentunya caranya pun yang baik. Tahu unggah-ungguh, sopan santun, dan sebangsanya! Karena dengan keramahtamahan dalam perkataan, akan menciptakan keyakinan pada orang yang kita datangi! Dengan keramahtamahan dalam pemikiran, akan menciptakan kedamaian bagi rakyat yang kita ajak berdiskusi, dengan keramahtamahan dalam kita memberi, akan menciptakan kasih dan sayang,” urai Gilang.
“Wach, hebat sekali Adek Mbak ini, mampu mangadopsi pola keramahtamahan begitu apik dalam memainkan pola sentuhan kerakyatan,” sahut Dinda dengan bangga.
“Adek cuma mengapresiasi teorinya Lao Tse saja kok, Mbak! Mestinya kita bersyukur karena sudah banyak pakar yang menebar teori, tinggal kita praktikkan saja! Dan ternyata, memang bagus dengan ketiga pola keramahtamahan itu hasilnya!”
“Terus nilai apa yang Adek dapat setelah bersentuhan dengan rakyat?”
“Jujur saja ya, Mbak! Ternyata, rakyat itu jauh lebih pintar dari yang disangka para politisi! Mereka punya nalar, punya hati dan karenanya jangan pernah meremehkan mereka!” kata Gilang.
“Walaupun akibatnya terkena tebaran virus flu berat ya, Dek!?” sahut Dinda sambil tertawa.
“Itu risiko, Mbak! Yang pasti, in politics, timing is everything!” ***

02 Maret 2009

Pepesan Kosong

“Lho Dek, kenapa itu keningnya?” sapa Dinda saat melihat bagian depan kepala Gilang benjol besar, sepulang dari sekolah.
”Tadi kesantuk waktu di sekolah!” ucap Gilang sambil mengelus benjolan di keningnya.
“Kok bisa kesantuk begitu sih? Memangnya ngapain?”
“Tadi kan di meja ibu guru ada piring yang isinya bungkusan dari daun pisang! Kami berebutan mengambilnya, Adek kesenggol teman akhirnya kesantuk pinggir meja. Jadi ya begini!”
“Memangnya apa sih yang ada diatas meja ibu guru itu?”
“Nah inilah malunya, Mbak! Nggak tahunya itu bungkus pepes, ikannya sudah nggak ada lagi!”
“Jadi memperebutkan pepesan kosong, begitu ya… Hahaha…!” sela Dinda sambil tertawa ngakak.
“Iya, Mbak! Sialnya kena Adek, dapat benjol kayak begini!”
“Ya sudah, lain kali jangan langsung meletup syahwat nafsu makan begitu melihat apa yang ada diatas meja! Karena belum tentu itu makanan enak, salah-salah malah sampah!”
“Betul, Mbak! Ini pengalaman yang sangat berharga! Tapi ngapain juga pepesan kosong kok ditaruh diatas meja, buat orang lain tergiur saja!” ujar Gilang.
“Jangan terbiasa menyalahkan orang lain, Dek! Apa-apa itu, kembalikan ke diri sendiri! Selalu-lah introspeksi diri jika terjadi sesuatu, dengan demikian kita akan selalu mawas diri, hati-hati, dan cermat dalam berbuat apapun!”
“Tapi kan sekarang ini memang eranya orang terjebak dengan pepesan kosong, Mbak…, hehehe…!”
“Jangan buat isu baru-lah, Dek!” ucap Dinda.
“Ini bukan isu, Mbak! Banyak sekali contohnya! Yang terakhir soal pemilihan wakil bupati di Lampung Selatan! Sudah prosesnya bertele-tele, pelaksanaan pemilihannya tidak kuorum, terancam pula bakal tidak dilantik!”
“Terus pepesan kosongnya dimana?”
“Lho, untuk masuk calon wakil bupati dan diusung parpol itu kan pakai uang! Belum lagi selama lobi-lobi dan mengurus anggota Dewan yang memilih! Semua itu pakai dana lo, Mbak! Ironisnya, sudah susah payah begitu, keluar uang banyak, belum ada kepastian bakal dilantik, kan sama saja memperebutkan pepesan kosong!”
“Kasihan juga ya Dek kalau sampai begitu?” sela Dinda.
“Memangnya Mbak ada kepentingan kok sampai komentar kasihan!” ucap Gilang.
“Ya nggak ada sih! Kenal juga nggak sama wakil bupati terpilihnya! Cuma ya itu tadi, kok ya mau-maunya orang keluar uang banyak –bahkan sampai pinjam kiri-kanan- hanya untuk mengejar jabatan yang belum tentu sampai ditangan!”
“Itulah kalau sudah kebelet mampet alias tidak mampu mengelola syahwat politik, Mbak! Sulit membedakan mana yang memberi manfaat dan mana yang hanya menguras tabungan! Salah-salah malah benjol yang diterima!”
“Perilaku memperebutkan pepesan kosong juga dialami banyak pemborong di Kota Bandar Lampung lo, Dek! Mereka setor dana ke anggota DPRD Kota dan seorang pengurus partai untuk mendapat proyek! Tidak tahunya, ya mendapat pepesan kosong juga!”
“Nah, kalau caleg yang bermental semacam itu, nggak layak dipilih, Mbak! Mentalnya sudah rusak walau tampilannya bagus! Orang sudah setor dana saja dia kadalin, apalagi mau memperjuangkan aspirasi rakyat yang tidak setor! Milih caleg semacam ini sama saja akan mendapat pepesan kosong!” ***

22 Februari 2009

Memaknai Sengatan

“ADUH…, sakit betul akibat sengatan ini, Mbak…?” keluh Gilang setelah tangan kanannya disengat lebah, kemarin siang.
“Ya biasa saja-lah, Dek! Namanya juga ada racun yang masuk ke tubuh. Bukan hanya sakit yang dirasakan, bisa-bisa demam juga lo,” sahut Dinda.
“Waduh, kalau begitu harus ke dokter dong?!”
“Lihat dulu perkembangannya, Dek! Jangan apa-apa langsung ke dokter!”
“Tapi kan sudah terbaca kalau bekas sengatan ini akan berdampak demam, ujung-ujungnya juga harus ke dokter, ngapain menunggu nanti-nanti!”
“Kalau kekebalan tubuh Adek cukup bagus, nggak bakal sampai demam! Itu kuncinya! Sebaliknya, ini test case, kalau demam berarti kekebalan tubuh Adek tidak bagus!”
“Lah, urusan kayak begini kok dijadikan kelinci percobaan to, Mbak?” ucap Gilang.
“Bukan soal kelinci percobaan atau tidak, Dek! Tetapi, tidak semua hal meski kita ujung-ujungnya mampu membaca –seserius apapun nantinya- janganlah grusa-grusu dalam menyikapi sesuatu! Slow saja-lah!”
“Slow bagaimana, wong rasanya sakit kayak begini!?”
“Ada sebuah hikayat, ketika tokoh penting Partai Demokrat melontarkan statement bahwa belum tentu SBY akan berpasangan dengan JK pada pilpres mendatang karena diasumsikan Partai Golkar hanya meraih suara kecil melalui pemilu legislatif, kan reaksi spontan naik kepermukaan! Tak hanya ditataran dewa-dewa Partai Golkar yang marah, kesal, emosional, dan sebagainya. Di tingkat daerah pun, rasa gregetan itu tak bisa ditutup-tutupi lagi! Dianggap telah terjadi pelecehan terhadap nama besar Partai Golkar! Nah, ujung-ujungnya kan SBY sebagai ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, yang turun tangan, meluruskan, memberi penegasan tentang kekariban hubungan kedua partai!”
“Tapi kan sengatan politik itu sudah cukup membuat sakit, Mbak?!” sela Gilang.
“Adek jangan lupa, ketika kita merasakan ada ketersakitan akibat apapun, secara refleks badan kita memberi perlawanan kan? Nah, dengan adanya perlawanan itu menunjukkan jika kondisi tubuh kita normal-senormal-normalnya, kan begitu!”
“Terus kaitannya dengan sengatan politik Partai Demokrat terhadap Partai Golkar itu apa?”
“Jelas substansinya, bahwa kita harus menelaah dibalik yang tersurat! Terlepas dari apapun motivasinya, yang harus kita lihat adalah bahwa Partai Demokrat ingin mengajak Partai Golkar sama-sama berjuang maksimal memenangi pemilu legislatif 4 April nanti! Dengan demikian, hanya dua partai besar itu saja yang masing-masing berhak mencalonkan wapres-cawapres! Kalau dua partai besar ini menyatu lagi, sulit tertandingi! Dengan demikian, pelanjutan kepemimpinan SBY-JK makin mendekati kenyataan!” urai Dinda.
“Tapi ya itu tadi, Mbak! Sudah terjadi sengatan yang membawa sakit, bagaimana dong?”
“Dek, dalam dunia politik itu mengenal fatsun yang kental, yaitu kompromi-kompromi! Melalui sengatan itulah tampaknya akan dibangun kompromi-kompromi yang riil sejak dini!”
“Apa itu pasti, Mbak?”
“Dalam urusan politik yang pasti itu hanya kepentingan! Dan ketika kepentingan menyatu, sesakit apapun bekas sengatan itu akan dilupakan! Jadi, kompromi-kompromi itulah yang menghentikan terjadinya proses luka baru diatas luka lama! Itu sebabnya, SBY perlu segera meluruskan, sebelum menjadi demam!” ***

03 Februari 2009

Mengelola Warisan

“DEK, sekolah yang bener! Hari depan itu ditentukan oleh diri sendiri, bukan karena orang lain,” ucap Dinda saat Gilang akan berangkat sekolah di KBK TMI, kemarin pagi.
“Lho, kan selama ini juga sudah sekolah beneran sih, Mbak?” sahut Gilang sambil membetulkan celananya yang kedodoran.
“Iya, Mbak percaya itu! Cuma terus berpesan dan mengingatkan kan nggak ada salahnya!”
“Memang harus selalu mengingatkan, Mbak! Karena sering kali akibat kesibukan dan sebagainya, kita menjadi kendur di sisi lain! Meski tidak mungkin perfect 100%, tapi kan kita harus terus berupaya untuk selalu menjadi insan kamil!”
“Wach, makin pinter saja Adek mempersiapkan diri menyongsong hari depan!” ujar Dinda dengan bangga.
“Ya mesti begitu dong, Mbak! Kita ini kan anak-anak bangsa yang harus memiliki kualitas tersendiri!”
“Duuh, Mbak bangga sekali dengan Adek!”
“Yang perlu diingat, kita ini kan kedepannya langsung tidak langsung, mau atau tidak mau, akan mengelola yang namanya warisan! Karena itu, secara personal kita harus mempersiapkan diri sebaik mungkin!”
“Lho, belum apa-apa kok sudah memikirkan warisan to, Dek! Kita nggak boleh berpikir ke sana! Kita harus membuat sesuatu dengan kemampuan dirinya sendiri, jangan mikirin bakal mendapatkan warisan!”
“Mbak jangan salah! Dalam kehidupan ini, sering kali tanpa disadari kita akan menerima yang namanya warisan! Yang namanya warisan itu jangan selalu dikontekskan dalam bentuk harta benda, tetapi bisa berupa apa saja!”
“Misalnya apa, Dek…?!”
“Misalnya, warisan masalah!”
“Masalah kok menjadi warisan, memangnya ada, Dek…?!”
“Lho, ya ada dan banyak itu terjadi, Mbak!”
“Contohnya apa, Dek…!?”
“Misalnya, ketika terjadi pergantian kepemimpinan di pemerintahan, ada saja warisan-warisan tak mengenakkan yang ditinggalkan. Nah, mau tidak mau kan penggantinya harus menerima peninggalan tersebut!”
“Kasih contoh konkret saja, Dek…!?”
“Itu di jajaran Pemkab Lampung Utara! Sepeninggal Hairi Fasyah sebagai bupati, yang mencuat sebagai warisan adalah pecah-belahnya aparatur, sehingga kinerjanya menjadi tidak maksimal!”
“Wach, kok bisa begitu ya, Dek?!”
“Ya itulah kenyataannya! Ditambah persoalan pilkada yang sampai kini masih menggantung, membuat kondisi pemerintahan di Pemkab Lampura menjadi kurang dinamis!”
“Jadi warisan tak mengenakkan itu dong yang diterima pelaksana tugas bupati!”
“Betul! Itu sebabnya tadi Adek bilang, sebagai anak bangsa yang berpikir maju dan modern, kita tak melulu mempersiapkan diri dengan langkah-langkah semata tetapi juga mengkristalisasi mental dan wawasan untuk menghadapi segala kemungkinan, termasuk menerima warisan-warisan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya!”
“Boleh jadi, warisan yang ditinggalkan di Lampura bukan hanya soal begituan, Dek! Tapi bisa juga beragam indikasi pelanggaran lainnya!?”
“Ya itu bisa-bisa saja, kita tunggu saja! Yang jelas, becik ketitik, olo ketoro!” ***

01 Februari 2009

Golongan Putih

“MBAK, ternyata masuk golongan putih itu nggak bagus lo!” kata Gilang kemarin pagi dengan tiba-tiba.
“Kata siapa? Dimana-mana yang namanya golongan putih itu bagus, Dek! Karena putih itu lambang kebersihan, kesucian, dan kebenaran,” sahut Dinda.
“Nggak, Mbak! Ternyata tidak semua golongan putih itu bagus! Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengharamkannya!”
“Ah, Adek jangan mengada-ada-lah!”
“Beneran ini, Mbak?”
“Maksudnya golongan putih bagaimana yang sampai difatwakan MUI sebagai perilaku haram?” tanya Dinda.
“Golongan putih yang terkait dengan urusan penyampaian aspirasi politik, Mbak! Itu lo, yang disebut-sebut sebagai golput, yaitu tidak mau menggunakan hak politiknya pada saat pemilu dilakukan,” jelas Gilang.
“O sampai segitunya, Dek?!”
“Iya, Mbak! Terus menurut Mbak sendiri bagaimana?”
“Repot juga ya! Di satu sisi, yang namanya memilih atau tidak itu kan hak individu, yang undang-undang pun melindunginya! Tapi kalau difatwakan haram, ini yang menjadi masalah!” kata Dinda mencoba bijak.
“Kelihatannya Mbak termasuk golongan putih nih?!”
“Golongan putih dalam konteks apa dulu? Kalau golongan putih dikonotasikan sebagai individu yang tidak mau tahu dengan kepentingan bangsa dan masa depan negara, ya nggak mau dong?!”
“Jadi menurut Mbak bagaimana?”
“Sebaiknya jangan dipakailah istilah golongan putih alias golput itu dalam konotasi yang minus! Karena selama ini, konotasi putih itu kan bersih, rapih, dan baik! Mbok ya dicarikan sebutan lain untuk menjustifikasi perilaku orang-orang yang mendahulukan kepentingan pribadinya ketimbang kepentingan bangsa dan negara dalam konteks penyampaian aspirasi politiknya,” ujar Dinda.
“Alaah, susah-susah amat membuat konotasi baru, Mbak? Wong sebutan golput itu sudah hidup diblantika pentas politik kita selama belasan tahun! Yang penting itu bagaimana agar golput berkonotasi positif dalam proses maksimalisasi dukungan politik rakyat pada pesta demokrasi,” kata Gilang.
“Sederhana saja, Dek! Nggak perlu kita pakai istilah golput itu! Yang utama adalah bagaimana kepemimpinan pemerintahan selama ini, sudah mensejahterakan rakyat apa belum? Sudah bisa memberi kesenangan-kesenangan pada rakyat apa belum? Terus, bagaimana sosialisasi pelaksanaan pesta demokrasi ke semua rakyat? Itu saja kok kuncinya!”
“Nah, itu masalahnya, Mbak! Meski nyata-nyata pemerintahan sekarang banyak melakukan terobosan dalam hal mensejahterakan rakyat, ada saja pembentukan opini jika sebenarnya hidup makin susah! Terus lagi, pelaksana pesta demokrasi yaitu KPU masih belum melakukan sosialisasi apa-apa karena dananya belum jelas!”
“Kalau soal pembentukan opini hidup makin susah, itu ya biar-biar saja, toh mayoritas rakyat tidak merasakannya demikian! Justru iklan-iklan semacam itu akan membuat blunder politik yang sulit dijinakkan pada akar rumput!”
“Maksudnya akar rumput akan masuk golput begitu?”
“O tidak bakalan itu, Dek! Dengan iklan-iklan yang memutar-balik fakta, malahan akan membuat rakyat bergerak! Mereka akan salurkan aspirasi politiknya, ada atau tidak sosialisasi dari KPU yang memang kelihatan tergagap-gagap dalam melaksanakan tugasnya!” kata Dinda lagi. ***

18 Januari 2009

Memaknai Kritik


DUA hari belakangan, Dinda sering betul mengkritik perilaku Gilang. Ada saja yang menjadi bahannya untuk ngomel. Namun, Gilang enjoy-enjoy saja.
“Adek ini kok kesannya bengel amat sih? Dikritik terus-terusan nggak juga membela diri,” tegur Dinda saking kesalnya melihat Gilang yang tampak selalu tukun mendengar omelan Mbak-nya.
“Ya mesti bagaimana dong? Adek paham kok, Mbak mengkritik terus-terusan itu kan karena Mbak sayang! Mbak memuntahkan uneg-uneg kekecewaan itu kan karena Mbak punya harapan dan perhatian, iyakan?” ucap Gilang dengan tenang.
“Tapi jangan cuek begitu dong? Tanggapi apa kek!”
“Mbak, tidak semua kritik, omelan, dan cucuran uneg-uneg kekecewaan mesti ditanggapi! Lebih baik disimak dan diperbaiki hal-hal yang kurang baik!”
“Wah, hebat betul cara berpikir Adek?” ketus Dinda.
“Mbak perlu tahu, kalau Adek tanggapi, itu artinya kita mengurai ilmu yang layak jadi bahan pembenaran atau penangkis kritikan! Padahal, ilmu itu hanyalah kemampuan diambang kecakapan yang kita perlukan untuk masuk ke suatu bidang. Tapi tidak menjadikan kita bintang,” kata Gilang.
“Jadi apa dong yang berperan untuk menghasilkan kinerja cemerlang?” sela Dinda.
“Kecerdasan emosi, Mbak! Itu kuncinya! Maka itu, dalam memakna kritik, siapapun kita mesti legowo, karena kritik pada hakekatnya untuk memperbaiki, bukan menyalahkan! Hanya orang-orang yang rendah kecerdasan emosinya-lah yang selalu bereaksi frontal manakala menerima kritik!”
“Wah, hebat sekali cara berpikir Adek?” ujar Dinda, kagum.
“Jangan begitu, Mbak! Dalam hidup ini jangan terlalu mudah meremehkan sekaligus mengagungkan. Biasa-biasa saja-lah menilai siapa pun. Hargai orang karena dimensi kemanusiaannya. Jangan kecilkan orang karena kelemahannya! Sejarah membuktikan, dibalik kelemahan Thomas Alfa Edison yang tuli dan penjual koran, kinerja cemerlangnya sampai kini kita rasakan! Beethoven yang juga tuli, berhasil melahirkan karya-karya musik yang luar biasa! Pun Plato yang berbadan bungkuk, hasil kreativitasnya tetap kita hargai sampai saat ini!”
“Kok jadi ngelantur begitu, Dek?”
“Ini bukan ngelantur, Mbak! Tapi mengingatkan, bahwa siapapun kita pasti memiliki kelemahan!”
“Jadi maksud Adek nggak usah-lah terus-terusan mengkritik, begitu?”
“O, bukan begitu, Mbak! Kritik itu sangat baik dalam kehidupan! Hanya perlu diingat, kita memang hidup dibawah langit yang sama, tapi tidak semua kita punya cakrawala yang sama! Maksudnya, ya silakan saja mengkritik namun tetap hargai privacy orang!”
“Jadi oke-oke saja mengkritik tapi jangan menyerang pribadi, begitu?”
“Betul, Mbak! Maka itu, kalau dalam menyambut pemilu legislatif sekarang ini yang terjadi justru peperangan internal kader partai, ya wajar-wajar saja! Sebab tidak semua caleg telah tergembleng mentalnya, kecerdasan emosinya pun belum tentu stabil!”
“Jadi sah-sah saja dong kalau terjadi kanibalisme antar caleg dalam satu parpol?”
“Bukan soal sah atau tidak, Mbak! Justru disini rakyat bisa menilai, sejauhmana kualitas mereka! Kalau kena kritik sedikit saja sudah kehilangan kendali, bagaimana nanti mau mengapresiasi suara rakyat! Padahal, kritik itu nikmat, bumbu kehidupan! Walau tak mesti selalu kita kunyah sampai ke ulu hati!” ***