“ADEK ini apaan sih…? Ini kan punya Mbak! Jangan rebutan sampai main serobot begitu dong!” tegur Dinda pada Gilang.
“Ya kita berbagi dong, Mbak? Jangan serakah kayak begitu!” sela Gilang.
“Siapa yang serakah! Ini kan memang hak Mbak! Adek itu yang nggak bisa menahan diri, maunya lebih terus dari yang sebenarnya!”
“Namanya juga kehidupan, Mbak!”
“Maksudnya apa…?”
“Hidup adalah perbuatan, kan begitu!”
“Ya, tapi perbuatan yang kayak mana dulu?!”
“Hidup itu adalah perjuangan!”
“Hidup yang kayak mana dulu, Dek?”
“Ya hidup inilah! Nggak bisa kita hanya mengandalkan apa yang menjadi hak kita saja, Mbak! Nggak ada salahnya kalau kita berjuang untuk mendapat lebih dari apa yang menjadi hak kita! Kan hidup adalah perbuatan dan perjuangan,” urai Gilang.
“Adek perlu tahu ya, setiap orang di dunia ini adalah tamu dan uangnya adalah pinjaman. Setiap tamu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan setiap pinjaman haruslah dikembalikan!”
“Itu makna hidup dari sisi filosofis ke-Ilahian, Mbak! Kita ini hanya memperebutkan sepotong kue! Jangan jauh-jauh amatlah mencari parameter!” sela Gilang.
“Justru dari sekadar sepotong kue ini kita mesti belajar memaknai kehidupan, Dek! Sehingga kalaupun pada waktunya bertemu dengan persoalan lebih besar, nggak bakal sampai terjadi aksi main serobot kayak begini!” ucap Dinda.
“Lho, bukannya sekarang memang era rebutan kue, Mbak?”
“Maksudnya apa…?”
“Kue kekuasaan – posisi presiden dan wapres – kan lagi seru-serunya diperebutkan, Mbak! Lihat saja Pak Wiranto, dengan sukacita dan wajah sumringah, beliau tampak begitu enjoy ketika menandatangani ijab Kabul sebagai cawapres bergandengan dengan JK! Padahal, tahun 2004 lalu Pak Wiranto itu mencalonkan dirinya sebagai capres!”
“O, kalau itu beda, Dek!”
“Sama saja dong, Mbak! Sama-sama memperebutkan kue kayak kita ini! Adek kan ingin mendapatkan yang tengah, karena ada mesisnya, tapi karena nggak berhasil direbut, ya pinggir-pinggirannya juga oke saja, yang penting masih ada manisnya,” sela Gilang.
“Nah, gaya atau pola pikir semacam itu jangan terus dikembangkan, Dek! Dalam kehidupan ini ada prestise yang harus kita jaga! Alangkah naifnya mantan calon lurah belakangan sibuk mencalonkan diri sebagai ketua RT!”
“Tapi kan nggak salah, Mbak?”
“Bukan soal salah atau benar, Dek! Tapi etika! Etika politik itu mesti dikedepankan, karena rakyat akan menilai secara jernih! Kalau dulu sebagai calon presiden terus sekarang nrimo saja sebagai calon wapres, pandangan rakyat bukan lagi pada soal kemampuan dan kualitas atau niat baik Pak Wiranto untuk bangsa ini. Tetapi sudah kepada begitu menggeliatnya syahwat beliau untuk menduduki jabatan empuk! Ini menjadikan segala kelebihan beliau terkikis! Apalagi belum tentu pada 8 Juli nanti bisa menjadi pemenang pilpres,” urai Dinda panjang lebar.
“Jadi maksudnya, ya nggak perlu-lah rebutan kayak kita ini, begitu ya Mbak?”
“Kalau kita, memang nggak perlu rebutan, Dek! Tinggal saling meminta saja! Masalahnya, kalau kue kekuasaan, ya harus direbut! Yang disayangkan, sering melupakan prestise yang dengan susah payah dibangun!” ***
“Ya kita berbagi dong, Mbak? Jangan serakah kayak begitu!” sela Gilang.
“Siapa yang serakah! Ini kan memang hak Mbak! Adek itu yang nggak bisa menahan diri, maunya lebih terus dari yang sebenarnya!”
“Namanya juga kehidupan, Mbak!”
“Maksudnya apa…?”
“Hidup adalah perbuatan, kan begitu!”
“Ya, tapi perbuatan yang kayak mana dulu?!”
“Hidup itu adalah perjuangan!”
“Hidup yang kayak mana dulu, Dek?”
“Ya hidup inilah! Nggak bisa kita hanya mengandalkan apa yang menjadi hak kita saja, Mbak! Nggak ada salahnya kalau kita berjuang untuk mendapat lebih dari apa yang menjadi hak kita! Kan hidup adalah perbuatan dan perjuangan,” urai Gilang.
“Adek perlu tahu ya, setiap orang di dunia ini adalah tamu dan uangnya adalah pinjaman. Setiap tamu pastilah akan pergi, cepat atau lambat, dan setiap pinjaman haruslah dikembalikan!”
“Itu makna hidup dari sisi filosofis ke-Ilahian, Mbak! Kita ini hanya memperebutkan sepotong kue! Jangan jauh-jauh amatlah mencari parameter!” sela Gilang.
“Justru dari sekadar sepotong kue ini kita mesti belajar memaknai kehidupan, Dek! Sehingga kalaupun pada waktunya bertemu dengan persoalan lebih besar, nggak bakal sampai terjadi aksi main serobot kayak begini!” ucap Dinda.
“Lho, bukannya sekarang memang era rebutan kue, Mbak?”
“Maksudnya apa…?”
“Kue kekuasaan – posisi presiden dan wapres – kan lagi seru-serunya diperebutkan, Mbak! Lihat saja Pak Wiranto, dengan sukacita dan wajah sumringah, beliau tampak begitu enjoy ketika menandatangani ijab Kabul sebagai cawapres bergandengan dengan JK! Padahal, tahun 2004 lalu Pak Wiranto itu mencalonkan dirinya sebagai capres!”
“O, kalau itu beda, Dek!”
“Sama saja dong, Mbak! Sama-sama memperebutkan kue kayak kita ini! Adek kan ingin mendapatkan yang tengah, karena ada mesisnya, tapi karena nggak berhasil direbut, ya pinggir-pinggirannya juga oke saja, yang penting masih ada manisnya,” sela Gilang.
“Nah, gaya atau pola pikir semacam itu jangan terus dikembangkan, Dek! Dalam kehidupan ini ada prestise yang harus kita jaga! Alangkah naifnya mantan calon lurah belakangan sibuk mencalonkan diri sebagai ketua RT!”
“Tapi kan nggak salah, Mbak?”
“Bukan soal salah atau benar, Dek! Tapi etika! Etika politik itu mesti dikedepankan, karena rakyat akan menilai secara jernih! Kalau dulu sebagai calon presiden terus sekarang nrimo saja sebagai calon wapres, pandangan rakyat bukan lagi pada soal kemampuan dan kualitas atau niat baik Pak Wiranto untuk bangsa ini. Tetapi sudah kepada begitu menggeliatnya syahwat beliau untuk menduduki jabatan empuk! Ini menjadikan segala kelebihan beliau terkikis! Apalagi belum tentu pada 8 Juli nanti bisa menjadi pemenang pilpres,” urai Dinda panjang lebar.
“Jadi maksudnya, ya nggak perlu-lah rebutan kayak kita ini, begitu ya Mbak?”
“Kalau kita, memang nggak perlu rebutan, Dek! Tinggal saling meminta saja! Masalahnya, kalau kue kekuasaan, ya harus direbut! Yang disayangkan, sering melupakan prestise yang dengan susah payah dibangun!” ***





